Harry Redknapp berharap bahwa Tottenham Hotspur dapat menjadi klub terakhirnya sebelum ia pensiun.
Manajer berusia 62 tahun ini bersikeras bahwa klubnya mampu mengikis jarak dengan klub Big Four walaupun Spurs takluk 0-3 dari Arsenal dan Redknapp ingin pensiun dengan kepala tegak bangga
“Saya merasa ini adalah kesempatan terakhir saya melatih klub besar,” ujar Redknapp. “Masih ada celah antara Tottenham dan klub empat besar tapi saat semua pemain kami fit, kami mempunyai peluang.”
“Sebelum saya meninggalkan White Hart Lane, saya ingin menghasilkan tim yang membanggakan. Saya ingin ini menjadi pekerjaan terakhir saya, tapi sepakbola selalu menelurkan hal-hal yang tak terduga.”
Redknapp mengakui bahwa ia hampir saja menjadi manajer Newcastle United pada Januari 2008 tapi ia tidak bisa meninggalkan istrinya, Sandra, dan rumahnya di Dorset.
Ia juga mengungkapkan bahwa chairman Spurs, Daniel Levy, berusaha menggodanya untuk pindah ke White Hart Laen saat Martin Jol masih menjadi manajer di sana.
Jol menjadi manajer Spurs dari musim panas 2004 hingga Oktober 2007 sebelum digantikan oleh Juande Ramos.
“Daniel Levy menginginkan saya 3 tahun lalu saat Martin Jol masih berada di sana. Tapi Martin saat itu baik-baik saja dan saya juga senang di Portsmouth.”
Juande Ramous akhirnya dipecat dari Tottenham bulan Oktober tahun lalu dan Redknapp seketika menerima tawaran Spurs karena ia merasa tidak yakin dengan masa depannya di Portsmouth setelah sang pemilik saat itu, Sacha Gaydamak, terlihat ingin menjual sahamnya.
Redknapp menyaksikan bagaimana kepemilikan Portsmouth beralih dari Gaydamak ke Sulaiman Al Fahim lalu ke Ali Al Faraj dalam rentang beberapa bulan saja dan ia merasa bahwa harusnya ada regulasi yang mengatur soal mekanisme penjualan klub
”Orang datang pergi, ini adalah keadaan yang gila. Apa yang akan terjadi dalam 20 tahun lagi? Tidak akan ada lagi pemilik klub yang orang Inggris asli. Mereka tidak punya uang,” keluh Redknapp.
sumber :
www.djarum-super.com/soccer
Manajer berusia 62 tahun ini bersikeras bahwa klubnya mampu mengikis jarak dengan klub Big Four walaupun Spurs takluk 0-3 dari Arsenal dan Redknapp ingin pensiun dengan kepala tegak bangga
“Saya merasa ini adalah kesempatan terakhir saya melatih klub besar,” ujar Redknapp. “Masih ada celah antara Tottenham dan klub empat besar tapi saat semua pemain kami fit, kami mempunyai peluang.”
“Sebelum saya meninggalkan White Hart Lane, saya ingin menghasilkan tim yang membanggakan. Saya ingin ini menjadi pekerjaan terakhir saya, tapi sepakbola selalu menelurkan hal-hal yang tak terduga.”
Redknapp mengakui bahwa ia hampir saja menjadi manajer Newcastle United pada Januari 2008 tapi ia tidak bisa meninggalkan istrinya, Sandra, dan rumahnya di Dorset.
Ia juga mengungkapkan bahwa chairman Spurs, Daniel Levy, berusaha menggodanya untuk pindah ke White Hart Laen saat Martin Jol masih menjadi manajer di sana.
Jol menjadi manajer Spurs dari musim panas 2004 hingga Oktober 2007 sebelum digantikan oleh Juande Ramos.
“Daniel Levy menginginkan saya 3 tahun lalu saat Martin Jol masih berada di sana. Tapi Martin saat itu baik-baik saja dan saya juga senang di Portsmouth.”
Juande Ramous akhirnya dipecat dari Tottenham bulan Oktober tahun lalu dan Redknapp seketika menerima tawaran Spurs karena ia merasa tidak yakin dengan masa depannya di Portsmouth setelah sang pemilik saat itu, Sacha Gaydamak, terlihat ingin menjual sahamnya.
Redknapp menyaksikan bagaimana kepemilikan Portsmouth beralih dari Gaydamak ke Sulaiman Al Fahim lalu ke Ali Al Faraj dalam rentang beberapa bulan saja dan ia merasa bahwa harusnya ada regulasi yang mengatur soal mekanisme penjualan klub
”Orang datang pergi, ini adalah keadaan yang gila. Apa yang akan terjadi dalam 20 tahun lagi? Tidak akan ada lagi pemilik klub yang orang Inggris asli. Mereka tidak punya uang,” keluh Redknapp.
sumber :
www.djarum-super.com/soccer
0 komentar:
Posting Komentar